Sungguh malang nasib Hilman Siregar (15) dan Alvin Siregar (15) pelajar MTsN Model (Madrasah Tsanawiyah) Kota Padang Sidimpuan ini. Cita - citanya untuk melanjutkan pendidikan ke SMAN Plus Matauli Pandan, akhirnya pupus.
Kedua pelajar itu tewas tenggelam terseret arus ombak di Pantai Muara Lubuk Tukko, Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), Senin (1/6) kemarin.
Kepergian korban menyisakan duka sangat mendalam bagi keempat temannya, Sukri, Taufik, Fatul Aziz, dan Hafis Hutasuhut yang saat itu bersama mandi di Pantai Muara Lubuk Tukko.
Menurut penuturuan Sukri kepada Global, Selasa (2/6), bahwa Hilman Siregar tercatat sebagai siswa unggulan di MTsN Model kota Padang Sidimpuan, sedangkan Alvin siswa reguler.
Sebelumnya mereka berangkat dari Kota Padangsidimpuan menuju Pandan tepatnya hari, Sabtu (30/5) lalu, untuk mengikuti tes masuk di SMA Plus Matauli. Setibanya di Pandan, mereka pun menyempatkan diri pergi ke pantai Muara Lubuk Tukko untuk melihat keindahan pantai, dan malam harinya mereka menginap di rumah Pak Edi tepatnya di Lubuk Tukko, Kecamatan Pandan, Tapteng.
"Sebelum tidur, kami cerita - cerita tentang ujian hari Senin. Saat itu almarhum Hilman sedang merapikan pakaiannya dan menunjukkan batik warna biru kepada kami, seraya berkata, batik tersebut akan saya pakai untuk Sholat Jumat nanti. Sedangkan Alvin asyik bermain gitar. Kami tak meyangka bahwa pertemuan malam itu merupakan tanda - tanda perpisahan untuk selama - lamanya," kenang Sukri.
Tuntut Tanggung Jawab
Kepergian Hilman Siregar juga membuat orangtuanya, Syauti Siregar merasa sangat terpukul, sebab dia tak menduga kepergian anaknya mengikuti ujian ke SMA Plus Matauli, Tapteng menjadi perpisahan untuk selama - lamanya.
Bahkan Syauti Siregar pun meminta pertanggungjawaban dari guru MTsN Kota Padang Sidempuan bermarga Rambe, karena dinilai guru tersebut yang bertanggungjawab dalam peristiwa itu.
Saat itu juga, lanjut Syauti, anaknya meminta uang sebesar Rp700 ribu untuk biaya pendaftaran, biaya formulir dan biaya makan yang harus dilunasi saat itu juga.
Sementara itu, Wakil Kepala Sekolah SMAN Plus Matauli Pandan, Murdiono saat dikonfirmasi melalui selulernya, Selasa (2/6) mengatakan, bahwa SMAN Plus Matauli Pandan tidak ada membuat suatu peraturan yang menyatakan harus secara berkelompok untuk mendaftar.
Namun demikian, itu internal sekolah masing - masing, termasuk dengan uang yang dipungut sebesar Rp700ribu, juga tidak ada acuan sekolah Matauli. "Ketentuan dari kita selaku pihak penyelenggara ujian, diwajibkan hanya membayar uang formulir sebesar Rp200ribu dan mengenai adanya pungutan sebesar Rp700ribu, itu kembali kepada internal sekolah masing - masing," tegas Murdianto.

: if>
